Breaking News

Cegah Sejak Dini, Pemkot Jambi Bangun Jejaring Perlindungan Perempuan, Anak dan Kelompok Rentan


 Perkara Jambi Com.
Jambi – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi terus memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi, Informasi dan Edukasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak serta TPPO bagi Kelompok Masyarakat Rentan, yang digelar di Aula DPMPPA Kota Jambi, Selasa (15/09/2026).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua TP PKK Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG, yang sekaligus hadir sebagai narasumber bersama Septiriana Wulandari yang merupakan Psikolog Pendidikan dari PUSPAGA Putri Pinang Masak. 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh DPMPPA Kota Jambi itu diikuti 100 peserta. Terdiri dari, perangkat daerah di lingkungan Pemkot Jambi, Ketua TP PKK, Ketua Forum Komunikasi Rukun Tetangga (FKRT) dan Lembaga Adat Kecamatan, Akademisi, serta Forum Anak Daerah (FAD) Bumi Angso Duo, forum masyarakat rentan dan

Dalam kesempatan tersebut, Nadiyah menegaskan bahwa memberikan rasa aman dan menjamin masa depan yang layak bagi perempuan dan anak bukanlah sekadar bentuk pemberian, melainkan merupakan hak yang dijamin konstitusi, dilindungi hukum, serta diakui secara universal melalui prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia.

“Karena itu, atas nama TP PKK Kota Jambi, saya mengapresiasi DPMPPA yang telah mempersiapkan penyelenggaraan kegiatan hari ini. Ini merupakan kewajiban kita bersama, baik sebagai negara, pemerintah, keluarga maupun masyarakat, serta hal penting dalam mewujudkan visi besar Kota Jambi Bahagia,” ujar Nadiyah.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum seseorang menjadi korban. Untuk itu, terdapat tiga hal penting yang perlu diperkuat bersama.

Pertama, keluarga harus menjadi benteng pertama.

Keluarga harus menjadi tempat yang aman untuk berbicara, tempat anak didengar, serta tempat perempuan dihargai dan dilindungi. Ketahanan keluarga, kata Nadiyah, perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka, pola pengasuhan yang positif, serta kemampuan mengenali tanda-tanda kekerasan dan kerentanan sejak dini.

“Kita perlu membangun ketahanan keluarga dengan komunikasi yang terbuka, pengasuhan yang positif, dan kemampuan mengenali tanda-tanda kekerasan maupun kerentanan sejak dini,” ucapnya.

Kedua, lingkungan masyarakat harus menjadi sistem kewaspadaan pertama.

Nadiyah menyebut, Ketua RT, TP PKK, tokoh adat, tokoh masyarakat dan seluruh unsur di lingkungan memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendeteksi sekaligus mencegah terjadinya kekerasan dan TPPO.

“Kita jangan menunggu kekerasan menjadi besar baru kita bertindak. Jika ada perubahan perilaku anak, keluarga yang mulai terisolasi, dugaan kekerasan, atau tawaran pekerjaan yang mencurigakan, kenali, peduli, dan segera hubungkan dengan pihak yang memiliki kewenangan untuk memberikan perlindungan. Karena diam bukanlah solusi,” tegasnya.

Ketiga, korban harus mendapatkan perlindungan, bukan penghakiman.

Ia mengingatkan agar korban tidak kembali mengalami trauma akibat disalahkan, dipermalukan, ataupun tidak dipercaya. Menurutnya, masyarakat harus memberikan dukungan dan memastikan korban memperoleh pendampingan serta layanan yang tepat.

“Pesannya cukup sederhana: percaya korban, lindungi korban, dampingi korban, dan pastikan korban mendapatkan layanan yang tepat,” jelas Nadiyah.

Lebih lanjut, Nadiyah berharap pembangunan Kota Jambi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan yang aman bagi perempuan, ramah bagi anak, serta memiliki ketahanan keluarga yang kuat.

“Untuk itu, saya berharap kegiatan hari ini dapat menghasilkan pengetahuan, agar kita tahu apa yang harus dikenali dan dicegah; jejaring, agar kita tahu harus menghubungi siapa ketika menemukan persoalan; serta keberanian untuk bertindak, agar tidak ada lagi kekerasan yang dianggap biasa dan tidak ada korban yang merasa sendirian,” harapnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun satu komitmen bersama, yakni “Lihat, Peduli, Cegah, dan Lindungi.”

“Lihat ketika ada tanda-tanda kekerasan. Peduli ketika ada yang membutuhkan pertolongan. Cegah sebelum menjadi korban, dan lindungi mereka yang membutuhkan,” lanjutnya.

Nadiyah berharap, melalui kegiatan tersebut semakin tumbuh masyarakat Kota Jambi yang peka, berani dan tanggap terhadap berbagai bentuk kekerasan dan praktik perdagangan orang.

“Semoga dari forum ini lahir masyarakat Kota Jambi yang semakin peka, berani, dan tanggap, sehingga kekerasan dapat dicegah dan setiap perempuan serta anak dapat tumbuh, hidup, dan berkembang dengan aman, bermartabat dan bahagia,” serunya.

Ia menegaskan, perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan semata-mata menjadi tugas pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

“Karena pada hakikatnya, perlindungan perempuan dan anak bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkas Nadiyah.

Sementara itu, Keplaa DPMPPA Noverentiwi Dewanti menyampaikan tujuan dari kegiatan ini guna memberikan penguatan mental pemulihan psikologis dan pengenalan modus TPPO, hingga akses perlindungan terhadap masyarakat atau kelompok rentan dan membangun jejaring sosial. 

"Kegiatan ini dilaksanakan 15 September 2026, dengan 100 orang peserta," singkatnya. 

Hadir pula dikesempatan ini, Kasat Pol PP Iper Riyansuni, serta perwakilan Perangkat Daerah terkait dilingkungan Pemkot Jambi.

0 Komentar

© Copyright 2022 - Perkara Jambi